22 Jan 2020

Sulawesi Barat Rawan Bencana

Memasuki Tahun 2020 ini kondisi cuaca di seluruh wilayah Indonesia cukup ekstrim. Sehingga dibutuhkan kesigapsiagaan untuk bisa menghadapi terjadinya bencana sewaktu-waktu berdasarkan surat dari Kementerian Dalam negeri dan badan Penanggulan Bencana RI bahwa kondisi cuaca saat ini kurang bersahabat.

Hal ini dijelaskan Oleh Badan penanggulangan bencana Sulbar, Darno, bahwa saat ini cuaca kurang bersahabat, khususnya untuk wilayah Sulawesi Barat. Apalagi dalam tiga bulan terakhir ini, keadaan atau kondisi cuaca kurang baik. Untuk itu  pemerintah Sulbar atas arahan Gubernur,Wagub dan Sekda, BPBD Sulbar telah membentuk pos setiap malam 1 kali 24 jam bersama pihak terkait dan telah dilakukan koordinasi bersama BPBD Kabupaten Se Sulbar untuk selalu memberikan informasi terkait kondisi cuaca disetiap daerah dan juga membentuk posko disetiap kantor BPBD Kabupaten agar bencana seperti longsor yang sering terjadi di Mamuju dan Majene segera mengantisipasi kemungkinan yang terjadi,ujarnya.    

Untuk mengantisipasi itu, BPBD juga telah melakukan kegiatan simulasi bencana yang diprakarsai oleh polda Sulbar. Kegiatan simulasi ini bagaimana meramu kegiatan bencana kontigensi tentang memuat kondisi  sebelum bencana, tanggap darurat dan pasca bencana. 

"Jadi dikegiatan ini adalah simulasi untuk  mengetahui tugas dan fungsi masing-masing  dan kita juga enventalisir kerjasama seperti,dinas kesehatan, dinas  PU  dan dinas sosial dengan tujuan agar  mengetahui masing-masing SDM yang dimiliki. Seperti contoh  dinas sosial, apa saja  yang ada  yang dapat membantu jika ada bencana, begitu juga kesehatan terkait-obat apa saja yang tersedia, itulah tujuan kegiatan tersebut dilakukan,"kata Darno.

Saat ini kita juga tak lupa melakukan koordinasi dengan masyarakat  bahwa mulai dari januari sampai maret itu  kondisi cuaca kurang baik, sehingga dibutuhkan kesiapsiagaan. Untuk itu Pemerintah sulbar atas arahan gubernur Sulbar, Ali Baal Masdar agar  segera menginformasikan kepada masyrakat agar siap siaga menghadapi kemungkinan bencana yang bisa saja terjadi kapan saja. Minimal kita mampu menyelamatkan diri sendiri  karena semakin kita siaga semakin kita bisa menyelamatkan nyawa keluarga kemudian masyarakat, karena menurut penelitian Jepang bahwa banyaknya  orang selamat karena mereka mampu siaga dirinya sendiri baru menolong orang lain.

Darno menjelaskan,bahwa masyarakat juga harus bisa mengenal bencana apa saja yang terjadi, karena di sulbar ada  beberapa ancaman yang selalu kita siap siaga seperti banjir,banjir bandang, kemudian angin puting beliung cuaca ekstrim,gelombang pasang kemudian gempa . Apalagi saat ini mamasa masih gempa, sehingga kita harus selalu sigap dalam menghadapi kejadian bencana yang terjadi.  Bukan hanya itu bencana seperti kebakaran hutan dan lahan kemudian likufaksi juga menjadi perhatian kita bersama. Apalagi ada penelitian bahwa di sulbar masih rentang ancaman likufaksi tapi tidak sama dengan dipalu.Namun demkian kita harus siap siaga menghadapi. Sebab kita lihat di sulbar ini ancaman yang seperti terjadi adalah banjir kemudian longsor yang harus kita siap siaga dari sekarang,  mulai 1 kali 24 jam. 

Untuk itu BPBD juga telah menyiapkan  personil yang akan turun kelapangan. Dengan jumlah 30 orang yang terbentuk dalam tim reaksi cepat dapat segera membantu jika ada terjadinya bencana. Begitu juga di dinas sosial ada tagana, jadi kita berkolaborasi dengan dinas sosial jika terjadi bencana. 

Walaupun dilihat  kondisi sekarang dengan personil 30 orang untuk dibagi enam kabupaten memang tidak cukup , sehingga  menjadi PR untuk pemerintah sulbar, bagaimnana BPBD ini bisa ditambah personilnya baik tenaga PNSnya maupun tenaga honorer. 

Pasalnya jika terjadi bencana maka tim reaksi cepat yang akan turun kelapangan.Dengan 30 orang belum mencukupi kebutuhan kami dilapangan, Ungkap Darno. 

"Personil tim reaksi cepat ini juga telah diberikan pelatihan dan telah terlatih dan sudah matang dalam melakukan evakuasi sehingga siap siap dilapangan. Walaupun baru 15 orang yang betul-betul matang dan telah terlatih. Namun 15 orang lainnya ini juga telah diberikan pelatihan namun perlu tambahan latihan. Apalagi bencana makin hari bencana juga semakin hari semakin berbeda jadi dibutuhkan pelatihan tambahan dan tentu diperlukan dorongan terkait  anggaran, Kata Darno.  

Masih katanya, kalau kita melihat kondisi di sulbar yang sangat rentang dengan bencana, maka minimal kita membutuhkan 100 orang sebagai tim reaksi cepat. Sehingga kalau terjadi bencana, personil kita akan bisa cukup untuk melakukan bantuan untuk mememnuhi enam kabupaten. 

"jadi kita membutuhkan 100  orang untuk dilatih  dan kami harap kepada gubernur sulbar agar ada  dibuka kedepan penerimaan khusus tim reaksi cepat yang spesifikasinya khusus dalam penanganan bencana untuk memenuhi persyaratan PPPK, dimana kami membutuhkan tenaga yang terlatih masih muda fisiknya. Jadi kita butuh itu dan kedepan bisa kita lakukan tes, tutup Darno yang ditemui di ruang kerjanya, Selasa, 21 Januari 2020.

Read 1248 times Last modified on Selasa, 31 Maret 2020 19:33
(0 votes)